Kamis, 28 Januari 2016

Pengelola Blog

Selamat datang diblog ane gan
Selamat membaca ...
Konsultasi dan curhat bisa inbox di fb ane
Rezky eka wicaksono


Apa Arti Kehidupan Ini?

Sebagian orang mungkin bertanya; apa arti kehidupan ini? Kalau kita cermati akan banyak sekali jawaban untuk satu pertanyaan ini. Sebagian menjawab, bahwa kehidupan adalah uang. Sehingga setiap detik …

 
  14479  19
pertanyaan
Sebagian orang mungkin bertanya; apa arti kehidupan ini? Kalau kita cermati akan banyak sekali jawaban untuk satu pertanyaan ini. Sebagian menjawab, bahwa kehidupan adalah uang. Sehingga setiap detik hidup ini yang dicari adalah uang. Artinya apabila dia tidak memiliki uang, seolah-olah kehidupannya telah hilang. Sebagian lagi menjawab, bahwa kehidupan adalah kedudukan. Sehingga setiap detik yang dicari adalah kedudukan. Sebagian lagi memandang bahwa kehidupan adalah kesempatan untuk bersenang-senang. Maka bagi golongan ini kesenangan duniawi adalah tujuan utama yang dicari-cari.
Saudaraku –semoga Allah merahmatimu– kehidupan ini adalah sebuah kesempatan yang sangat berharga untuk kita. Jangan sampai kita sia-siakan kehidupan di dunia ini untuk sesuatu yang tidak jelas dan akan sirna. Kenikmatan dunia ini pun kalau mau kita pikirkan dengan baik, maka tidaklah lama. Sebentar saja, bukankah demikian? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Seolah-olah tatkala  melihat hari kiamat itu, mereka tidaklah hidup (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di waktu siang atau sesaat di waktu dhuha.” (QS. an-Nazi’at: 46)
Lalu apa yang harus kita lakukan di dunia ini? Sebuah pertanyaan menarik. Sebuah pertanyaan yang akan kita temukan jawabannya di dalam al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56). Jangan salah paham dulu… Jangan dikira bahwa itu artinya setiap detik kita harus berada di masjid, atau setiap detik kita harus membaca al-Qur’an, atau setiap hari kita harus berpuasa, sama sekali bukan demikian… Ibadah, mencakup segala ucapan dan perbuatan yang dicintai oleh Allah. Allah tidak menghendaki kita setiap detik berada di masjid. Allah juga tidak menghendaki kita setiap detik membaca al-Qur’an. Semua ibadah itu ada waktunya. Yang terpenting bagi kita adalah melakukan apa yang Allah cintai bagaimana pun keadaan kita dan di mana pun kita berada.
Di antara perkara yang dituntut pada diri kita adalah senantiasa mengingat Allah, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang banyak berdzikir dan mengingat Allah dalam segala kondisi. Ibnu Taimiyah pernah mengungkapkan, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Lantas apa yang akan terjadi pada seekor ikan jika ia dikeluarkan dari air?”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan mengatakan, “Perumpamaan orang yang mengingat Allah dengan orang yang tidak mengingat Allah adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Bukhari)
Dengan mengingat Allah, maka kita akan berhati-hati dalam menjalani hidup ini. Karena Allah senantiasa mengawasi kita dan mengetahui apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan, di mana pun dan kapan pun. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya perkara sekecil apapun. Inilah yang semestinya senantiasa kita tanamkan di dalam hati kita. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberpesan, “Bertakwalah kepada Allah dimana pun kamu berada.” (HR. Tirmidzi). Kita harus bertakwa kepada Allah baik ketika berada di rumah, di jalan, di kampus, di pasar atau di mana pun kita berada, ketika bersama orang maupun ketika bersendirian.
Menjadi orang yang bertakwa itu bagaimana? Saudaraku –semoga Allah menunjuki kita– ketakwaan itu akan diraih manakala kita senantiasa mengingat adanya hari pembalasan dan bersiap-siap untuk menghadapinya dengan menjalankan ajaran-ajaran-Nya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu bahwa takwa adalah, “Rasa takut kepada Allah, beramal dengan wahyu yang diturunkan, dan bersiap-siap menyambut hari kiamat.” Allahu a’lam.
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel Muslim.Or.Id

Dosa Besar Penyebar Tontonan Porno


Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Orang-orang yang memproduksi film porno dan menyebarkannya termasuk bagian dari pembuat kerusakan di muka bumi yang sangat dicela oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mereka termasuk pula bagian orang-orang yang menyebarkan faahisyah (kekejian) di tengah-tengah umat manusia yang bisa merusak moral dan keimanan. Karena sebab merusak kaum muslimin, terutama generasi mudanya, Allah mengancam mereka dengan siksa yang keras.
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Sesungguhnya orang-orang yang berkeinginan agar perbuatan yang amat keji tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS. Al-Nuur: 19)
Allah mengancam mereka dengan siksa yang tak hanya di akhirat saja, tapi juga di dunia. Imam Al-Alusi berkata dalam tafsirnya, “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas (bagi mereka) dengan sebab itu [yaitu kegemaran menyebarkan perbuatan keji di tengah-tengah kaum muslimin] (adzab yang pedih) dari apa yang mereka menimpa mereka berupa bala’ seperti lumpuh dan buta. (dan di akhirat) berupa adzab nereka dan semisalnya.”
Tidak hanya itu, orang-orang yang menyebarkan film porno dan gambar seronok akan mendapat dosa berlipat-lipat. Mereka akan memikul dosa mereka atas perbuatan kejinya itu dan dosa semua orang yang menyaksikannya. Karena orang yang menunjukkan kepada keburukan (dosanya) seperti orang yang melakukannya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ
“(perbuatan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (QS: Al-Nahl: 25)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Siapa yang menyeru kepada petunjuk, ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. siapa yang mengajak kepada kesesatan, ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim)
Dosa besar dan ancaman keras atas aktifitas haram di atas juga tertuju kepada para artis yang seronok dan mengajarkan keburukan. Jika tampilan buruk mereka diikuti manusia maka mereka juga mendapatkan ancaman dosa dan siksa. Karenanya, seorang muslim yang mengimani Allah tidak akan mau terlibat dalam aktifitas haram tersebut. ia mencari kesibukan yang mendatangakan kebaikan untuk kaum muslimin sebagaimana ia suka kebaikan itu untuk dirinya.
Karenanya kepada kaum muslimin yang memiliki atau terlibat di Production House hendaknya memproduksi acara-acara yang membawa kebaikan untuk dirinya dan umat manusia di kehidupan dunia dan akhirat.
Siapa yang sudah terlanjur, segeralah bertuabat sebelum datang ancaman Allah, baik yang di dunia maupun diakhirat, dari musibah, bencana, kehinaan atau adzab yang pedih. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com

larangan mengumbar aurat


Massa Forum Umat Islam (FUI) membentangkan spanduk di Bunderan HI saat melakukan unjuk rasa menolak Miss World, Sabtu 14 September 2013. (foto: shodiq)



















Kaum muslimin rahimakumullah,

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
(QS. An Nuur 31).
Dalam tafsir Jalalain diterangkan bahwa para wanita mukminat diperintah agar tidak melihat hal-hal yang tidak halal bagi mereka. Mereka juga diwajibkan menjaga kemaluan mereka dari perkara yang tidak dihalalkan. Para wanita mukminat juga dilarang memperlihatkan bagian tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan kepada pria bukan suaminya dan yang tidak ada hubungan kekerabatan dengannya. Para wanita mukminat juga diwajibkan menutupi kepala, leher, dan dada mereka dengan kerudung atau mukenah. Dan para wanita mukminat juga dilarang memperlihatkan perhiasan/aurat mereka kecuali kepada para suami mereka, bapak mereka, bapak mertua mereka, anak-anak lelaki mereka, anak lelaki suami mereka, atau saudara lelaki mereka, atau keponakan lelaki mereka, atau sesama wanita mukminat, atau budak-budak lelaki mereka. Mereka-mereka ini boleh melihat aurat selain yang ada di antara pusar dan lutut. Apa yang ada di antara pusar dan lutut diharamkan bagi selain suaminya. Para wanita mukminat dilarang memperlihatkan aurat mereka kepada para wanita kafir. Para wanita kafir tidak disamakan dengan para wanita mukminat. Para budak lelaki yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita dibolehkan melihat aurat wanita selain apa yang ada antara pusar dan perut.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Ayat dan tafsirnya di atas merupakan penjelasan bahwa para wanita dilarang sembarangan mengumbar aurat mereka. Para wanita diwajibkan menutup rambut, kepala, leher, dan dada. Di dalam QS. Al Ahzab 59 para wanita mukminat diwajibkan mengenakan jilbab yang menutupi seluruh tubuhnya hingga menutupi telapak kaki mereka saat keluar rumah.  Di dalam tafsir Al Qurthuby dikutip hadits Nabi saw. bahwa para wanita yang mengumbar aurat, berpakaian tapi telanjang,  adalah penghuni neraka:

نساء كاسيات عاريات مائلات مميلات رءوسهن مثل أسنمة البخت لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها

“Perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang berlenggak-lenggok menarik perhatian, kepala mereka ada punuk, mereka tidak masuk ke dalam surga dan mereka tidak bisa mencium harumnya sorga”
 (HR. Muslim).

Kaum muslimin rahimakumullah,
Itulah larangan-larangan Allah SWT yang patut diperhatikan kaum muslimin. Itulah dalil-dalil yang dipakai oleh MUI dalam fatwanya nomor 287 tahun 2001 melarang pornografi dan pornoaksi setelah mendapatkan banyak laporan dari masyarakat bahwa pornografi dan pertunjukan hiburan porno alias pornoaksi semakin merajalela di masyarakat. Fatwa MUI tersebut diperjuangkan menjadi RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) pada tahun 2006 dan Tim Pengawal RUU APP MUI dan Ormas-ormas Islam waktu itu dibentuk untuk mengawal RUU tersebut dalam menjaga akhlak bangsa. Berbagai demonstrasi dilakukan untuk menandingi perlawanan kaum liberal dan para artis seronok yang menentang RUU APP tersebut. Puncaknya adalah demonstrasi tanggal 21 Mei 2006 yang diikuti seluruh komponen umat Islam dan dihadiri oleh seluruh pimpinan umat Islam yang melakukan long march sejuta umat Islam hingga memenuhi seluruh ruas jalan dari bunderan HI hingga depan gedung DPR-MPR Senayan Jakarta. Akhirnya RUU APP tersebut disahkan sebagai UU Pornografi. Namun sayang UU tersebut tidak jelas implementasinya sehingga tayangan-tayangan TV, majalah, maupun media lainnya, apalagi internet, hingga kini sangat memprihatinkan. Kalau anda ketik kata porno di google, maka dalam waktu 0,16 detik langsung tersedia 587 juta artikel mengandung kata porno dalam bahasa Indonesia dan tentu saja mengandung gambar porno. Na’udzubillah. Kelihatannya pemerintah abai dalam menjaga akhlak bangsa dan warga negara ini.

Kaum muslimin rahimakumullah,


Aurat wanita terus diumbar kemana-mana merusak kesopanan masyarakat kaum muslimin. Bahkan sering atas nama negara Pancasila, mereka mempromosikan pengumbaran aurat hingga merusak mental dan susila masyarakat yang mayoritasnya adalah kaum muslimin. Padahal sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.  Siapa Tuhan Yang Maha Esa? Termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 bahwa Tuhan YME adalah Allah Yang Maha Kuasa. Dan Allah Yang Maha Kuasa dalam surat An Nuur dan Al Ahzab di atas jelas telah mewajibkan para wanita menutup aurat dan melarang mereka mengumbarnya.  

Oleh karena itu, suatu hal yang aneh bin ajaib kalau ada suatu masyarakat mengaku beragama mendukung dan siap pasang badan untuk menjaga ajang pamer aurat yang namanya Miss World di Indonesia.  Apakah Tuhan mereka mengijinkan ajang maksiat. Miss World yang merupakan kontes bikini sejak 1951 adalah merek ajang maksiat. Julia Morley, pemilik usaha waralaba (franchise) Miss World membohongi publik dengan mengatakan bahwa sejak 8 tahun terakhir kontes bikini tidak ada dalam Miss World. Padahal promosi para kontestan Miss World tahun 2013 yang dimuat di website panitia www.missworld.com masih menggunakan pakaian bikini. Setelah mendapatkan protes keras dari FUI dan dilaporkan ke Mabes Polri gambar-gambar berpose bikini itu dihapus dari situs tersebut.       
 
Kaum muslimin rahimakumullah,


Amar Makruf Nahi Munkar yang dilakukan oleh para pimpinan dan aktivis ormas-ormas Islam yang tergabung dalam FUI adalah dalam rangka menegakkan kedaulatan hukum syariat Allah SWT di NKRI ini dan dalam rangka membela fatwa dan sikap MUI menjaga akhlak dan kesusilaan di masyarakat. Namun kejahatan mereka-mereka yang punya uang dan kekuasaan yang sombong dan melampaui batas telah memaksakan berlangsungnya Miss World yang tidak diijinkan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, umat Islam tidak boleh diam. Mereka harus terus mencegah dan melarangnya. Semua komponen umat harus bersatu padu untuk melarang dan menghentikan pameran aurat yang terus dilangsungkan di Bali itu.  

Kaum muslimin rahimakumullah,


Akhirnya marilah kita renungkan firman Allah SWT:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya
. (QS. Al Isra 16).

Na’udzubillahi min dzalik...Baarakallahu lii walakum....

Dugem, Party, Minum Bir. Maksiat Yang Tak Perlu Dibanggakan Bro


“Aku habis dugem tadi malam,” seorang remaja memberitahu temannya.
“Wah...berarti kamu ke diskotik donk? Itu kan tempat maksiat, Mas.”
“Iya, sesekali kita perlu tahu dunia malam itu kayak gimana. Supaya hidup kita itu kaya wawasan. Aku donk, tahu hitam putih dunia. Jadi aku ini termasuk gaul, nggak kuper,” katanya bangga.
Sahabat muda, itu tadi adalah sekilas percakapan antara dua anak muda yang pernah saya dengar. Percakapan yang bila saja tidak disaring dengan baik, membawa beberapa informasi yang menyesatkan. Dalam konteks tersebut, pembawa informasi memberitahukan tentang aktivitas dia semalam yaitu dugem. Dugem atau dunia gemerlap yang dilakukan di dalam diskotik. Namanya diskotik jelas saja berisi orang-orang yang berdisko, campur aduk laki-laki dan perempuan.
Gaya berbusana juga pasti disesuaikan. Tak mungkin mereka yang datang ke diskotik menutup aurat dengan baik. Yang ada malah saling berlomba untuk seminim mungkin dalam berpakaian. Jelas sekali tujuannya adalah untuk menarik perhatian lawan jenis untuk mendatanginya. Gaul bebas menjadi trend yang tak mungkin dihindari dalam ruangan maksiat ini.
Bukan itu saja. Minuman keras atau beralkohol juga menjadi hidangan biasa. Nggak mungkin kan datang ke diskotik hanya untuk minum jus jambu. Transaksi narkoba dan seks pun bukan menjadi hal yang tabu. Nah, tempat yang seperti inikah yang disebut sebagai kaya wawasan, gaul dan nggak kuper?
Jelas saja ini pernyataan yang menyesatkan. Sebagai remaja muslim yang cerdas tentu saja kamu gak bakal mudah percaya begitu saja. Sebaliknya, pikiran kritismu pun berjalan. Sebetulnya, dia juga tahu kok diskotik itu tempat apaan. Hanya saja dia membuat pembenaran terhadap aktivitas maksiatnya itu. Nah, bila seseorang itu sudah tahu bahwa apa yang dilakukannya itu maksiat dan haram tapi tetap ngeyel ogah berhenti, itu artinya dia sudah mentasbihkan dirinya sebagai orang sakti.
“Mas, sudah pernah belajar pegang api lilin belum?”
“Ngapain? Kurang kerjaanbanget!”
“Enggak, barangkali aja Mas mau nyoba gitu. Pegang deh api lilin yang kecil itu sekitar 10 menit aja. Nggak usah lama-lama.”
“Sarap kamu ya! Jelas aja panas, hangus nanti tanganku.”
“Nah, api lilin aja Mas takut kepanasan. Hangus sih nggak Mas, paling cuma sedikit meleleh. Padahal api neraka itu Mas, panasnya jutaan kali lipat daripada api lilin loh. Lha Mas kok malah gak takut sama api neraka tapi takut hangus karena api lilin yang kecil. Gimana sih? Katanya wawasan luas dan anak gaul, masa sama api saja takut. Kirain Mas tadi sudah jadi orang sakti, pamer maksiat. Itu kan sama artinya nantangin api neraka.”
Nah, biar mikir tuh remaja yang suka pamer maksiat. Sudahlah maksiat, dipamerin pake bangga lagi. Duh, naudzubillah. Semoga kita semua terhindar dari hal demikian, amin. (riafariana)

WASPADAI DOSA YANG TERUS MENGALIR


Mungkin kita semua sudah tahu, bahwa ada amalan yang pahalanya tidak akan pernah terputus meskipun kita sudah meninggal dunia, sebagaimana dalam hadits yang artinya :
 Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Apabila manusia meninggal, amalnya akan terputus, kecuali 3 hal: ‘Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya.’ (HR. Nasa’i 3651, Turmudzi 1376, dan dishahihkan Al-Albani).
Setelah mengetahui hadits diatas, tentunya kita harus lebih semangat dalam memanfatakan usia kita untuk mengejar pahala untuk bekal amal di hari kiamat. 

Bagaimana dengan Dosa yang terus mengalir

Ternyata, selain amalan yang pahalanya terus mengalir hingga kita meninggal, ada juga dosa yang sifatnya sama. Dosa tersebut akan terus mengalir dan ditimpakan kepada seseorang meskipun seseorang tersebut tidak melakukan perbuatan tersebut atau sudah meninggal. Sungguh sangat mengenaskan nasib orang mendapatkan kucuran dosa tersebut. 
Ternyata Allah tidak hanya mencatat amalan dan aktivitas yang dilakukan manusia, tapi juga dampak dan pengaruhnya terhadap orang lain, sebagaimana dalam firman_Nya berikut :
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)
Dari ayat diatas, kita bisa memahami bahwa amalan baik yang kita lakukan tidak hanya dicatat amalannya saja, tapi
juga dampak dari amalan yang kita lakukan akan terus mengalir pahalanya. Sebaliknya jika kita melakukan amalan buruk/berbuat maksiat, maka kita akan mendapatkan dosa atas perbuatan maksiat tersebut dan dampak buruknya juga akan kita tanggung terus meskipun kita sudah meninggal.

Dosa-Dosa yang terus mengalir

Mengingat besarnya bahaya ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya agar berhati-hati dan jangan sampai terjebak dalam dosa ini. Diantara dosa-dosa yang membahayakan kita diakhirat adalah :

Menjadi pelopor perbuatan maksiat

Ketika kita melakukan perbuatan maksiat dihadapan orang lain, lalu ada orang yang mengikutinya, maka kita bisa dikatakan sebagai pelopor perbuatan maksiat yang akan mendapatkan kucuran dosa orang yang sudah mengikutinya. Hal itu sebagaimana dalam hadist dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Orang yang mengajak dan mengajarkan kesesatan

Orang yang mengajak atau mengajarkan kesesatan akan menanggung dosa, meskipun dia tidak melakukan perbuatan tersebut. Sebagai contohnya adalah : orang yang mengajarkan aliran sesat, orang yang membenarkan perbuatan yang sudah dilarang oleh Allah, dan lain sebagainya. Berikut ini firman Allah yang menggambarkan kondisi orang tersebut di akhirat kelak,
Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). (QS. an-Nahl: 25)
Semoga informasi diatas membuat kita lebih waspada dan dihindarkan dari perbuatan yang dosanya terus mengalir hingga di akhirat. Amiin..

Dosa Yang Terus Mengalir


 
0
940
dosa yang terus mengalir

Dosa Yang Terus Mengalir

Assalamualaikum,  dosa apa yg trus mengalir meski qt sudah meninggal??
Dari: Devi Suherna
Jawaban:
Wa alaikumus salam
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Kita sering mendengar istilah sedekah jariyah. Itulah sedekah yang pahalanya akan terus mengalir, meskipun kita telah meninggal dunia. Kita akan tetap terus mendapatkan kucuran pahala, selama harta yang kita sedekahkan masih dimanfaatkan oleh kaum muslimin untuk melakukan ketaatan. Dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Apabila manusia meninggal, amalnya akan terputus, kecuali 3 hal: ‘Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya.’ (HR. Nasa’i 3651, Turmudzi 1376, dan dishahihkan Al-Albani).
Sebagai orang beriman, yang sadar akan pentingnya bekal amal di hari kiamat, tentu kita sangat berharap bisa mendapatkan amal semacam ini. Di saat kita sudah pensiun beramal, namun Allah tetap memberikan kucuran pahala karena amal kita di masa silam.

Dosa Jariyah

Disamping ada pahala jariyah, dalam islam juga ada dosa yang sifatnya sama, dosa jariyah. Dosa yang tetap terus mengalir, sekalipun orangnya telah meninggal. Dosa yang akan tetap ditimpakan kepada pelakunya, sekalipun dia tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat itu.
Betapa menyedihkannya nasib orang ini, di saat semua orang membutuhkan pahala di alam barzakh, dia justru mendapat kucuran dosa dan dosa. Anda bisa bayangkan, penyesalan yang akan dialami manusia yang memiliki dosa jariyah ini.
Satu prinsip yang selayaknya kita pahami, bahwa yang Allah catat dari kehidupan kita, tidak hanya aktivitas dan amalan yang kita lakukan, namun juga dampak dan pengaruh dari aktivitas dan amalan itu. Allah berfirman di surat Yasin,
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)
Orang yang melakukan amal dan aktivitas yang baik, akan Allah catat amal baik itu dan dampak baik dari amalan itu. Karena itulah, islam memotivasi umatnya untuk melakukan amal yang memberikan pengaruh baik yang luas bagi masyarakat. Karena dengan itu dia bisa mendapatkan pahala dari amal yang dia kerjakan, plus dampak baik dari amalnya.
Sebaliknya, orang yang melakukan amal buruk, atau perbuatan maksiat, dia akan mendapatkan dosa dari perbuatan yang dia lakukan, ditambah dampak buruk yang ditimbulkan dari kejahatan yang dia kerjakan. Selama dampak buruk ini masih ada, dia akan terus mendapatkan kucuran dosa itu. – wal’iyadzu billah.. –, itulah dosa jariyah, yang selalu mengalir. Sungguh betapa mengerikannya dosa ini.
Mengingat betapa bahayanya dosa jariyah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya agar berhati-hati, jangan sampai dia terjebak melakukan dosa ini.

Sumber Dosa Jariyah

Diantara sumber dosa jariyah yang telah diperingatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Pertama, mempelopori perbuatan maksiat.
Mempelopori dalam arti dia melakukan perbuatan maksiat itu di hadapan orang lain, sehingga banyak orang yang mengikutinya. Meskipun dia sendiri tidak mengajak orang lain untuk mengikutinya. Dalam hadis dari Jarir bin Abdillahradhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء
“Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).
Orang ini tidak mengajak lingkungan sekitarnya untuk melakukan maksiat yang sama. Orang ini juga tidak memotivasi orang lain untuk melakukan perbuatan dosa seperti yang dia lakukan. Namun orang ini melakukan maksiat itu di hadapan banyak orang, sehingga ada yang menirunya atau menyebarkannya.
Karena itulah, anak adam yang pertama kali membunuh, dia dilimpahi tanggung jawab atas semua kasus pembunuhan karena kedzaliman di alam ini. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا
“Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.”(HR. Bukhari 3157, Muslim 4473 dan yang lainnya).
Anda bisa bayangkan, orang yang pertama kali mendesain rok mini, pakaian you can see, kemudian dia sebarkan melalui internet, lalu ditiru banyak orang. Sekalipun dia tidak ngajak khalayak untuk memakai rok mini, namun mengingat dia yang mempeloporinya, kemudian banyak orang yang meniru, dia mendapatkan kucuran dosa semua orang yang menirunya, tanpa dikurangi sedikitpun.
Tak jauh beda dengan mereka yang memasang video parno atau cerita seronok di internet, tak terkecuali media massa, kemudian ada orang yang nonton atau membacanya, dan dengan membaca itu dia melakukan onani atau zina atau bahkan memperkosa, maka yang memasang di internet akan mendapat aliran dosa dari semua maksiat yang ditimbulkan karenanya.
Termasuk juga para wanita yang membuka aurat di tempat umum, sehingga memancing lawan jenis untuk menikmatinya, maka dia mendapatkan dosa membuka aurat, plus dosa setiap pandangan mata lelaki yang menikmatinya. Meskipun dia tidak mengajak para lelaki untuk memandanginya.
Kedua, mengajak melakukan kesesatan dan maksiat
Dia mengajak masyarakat untuk berbuat maksiat, meskipun bisa jadi dia sendiri tidak melakukan maksiat itu. Merekalah para juru dakwah kesesatan, atau mereka yang mempropagandakan kemaksiatan.
Allah berfirman, menceritakan keadaan orang kafir kelak di akhirat, bahwa mereka akan menanggung dosa kekufurannya, ditambah dosa setiap orang yang mereka sesatkan,
لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ
Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). (QS. an-Nahl: 25)
Imam Mujahid mengatakan,
يحملون أثقالهم: ذنوبهم وذنوب من أطاعهم، ولا يخفف عمن أطاعهم من العذاب شيئًا
Mereka menanggung dosa mereka sendiri dan dosa orang lain yang mengikutinya. Dan mereka sama sekali tidak diberi keringanan adzab karena dosa orang yang mengikutinya. (Tafsir Ibn Katsir, 4/566).
Ayat ini, semakna dengan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya).
Anda bisa perhatikan para propagandis yang menyebarkan aliran sesat, menyebarkan pemikiran menyimpang, menyerukan masyarakat untuk menyemarakkan kesyirikan dan bid’ah, menyerukan masyarakat untuk memusuhi dakwah tauhid dan sunah, merekalah contoh yang paling mudah terkait hadis di atas.
Sepanjang masih ada manusia yang mengikuti mereka, pelopor kemaksiatan dan penghasung pemikiran menyimpang, selama itu pula orang ini turut mendapatkan limpahan dosa, sekalipun dia sudah dikubur tanah. Merekalah para pemilik dosa jariyah.
Termasuk juga mereka yang mengiklankan maksiat, memotivasi orang lain untuk berbuat dosa, sekalipun dia sendiri tidak melakukannya, namun dia tetap mendapatkan dosa dari setiap orang yang mengikutinya.
Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amal jariyah dan menjauhkan kita dari dosa jariyah. Amin…

Dua Dosa yang Tetap Mengalir Meski Sudah Meninggal

Sebagian manusia bisa dengan mudah melakukan perbuatan dosa dalam kehidupan sehari-hari. Karena seringnya dilakukan, tindakan tersebut terkadang dianggap biasa sehingga tidak terasa seperti dosa. Padahal dosa bukanlah perkara main-main.

Balasannya mutlak neraka yang sudah disiapkan Allah SWT bagi hamba-Nya yang ingkar. Ternyata, setelah meninggal tanggungjawab terhadap dosa maksiat yang pernah dilakukan tidak terputus begitu saja.

Selama perbuatan maksiat tersebut masih berdampak dan berpengaruh kepada orang lain, maka dosanya akan tetap mengalir kepada pelakunya meski Ia sudah meninggal. Apa saja dosa-dosa tersebut? Berikut ulasannya.

Jika biasanya kita mengenal amal jariyah yang pahalanya mengalir meski sudah meninggal, maka ada juga dosa jariyah yang di janjikan Allah SWT akan diterima manusia. Saat sudah meninggal, seseorang akan tetap mendapatkan dosa karena perbuatannya semasa di dunia masih berpengaruh buruk terhadap orang lain.

Padahal di alam barzah manusia sangat membutuhkan limpahan pahala sebagai pertolongan mereka menunggu hari kiamat. Namun karena dosa jariyah ini mereka justru harus menanggung dosa-dosa yang dilakukan orang lain, akibat pengaruh atas tindakan maksiat yang pernah Ia lakukan semasa hidup.

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Lantas apa saja dosa yang akan terus mengalir ini?

1. Menjadi Pelopor Maksiat
Pelopor merupakan orang yang pertama melakukan suatu tindakan sehingga yang lain turut mengikuti. Pengikutnya bersedia meniru baik dengan paksaan maupun tanpa diminta sama sekali. Kondisi ini akan sangat bagus jika menjadi pelopor untuk tujuan yang baik. Namun bagaimana jika menjadi pelopor maksiat?

Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Orang yang menjadi pelopor ini sama sekali tidak mengajak orang di lingkungannya untuk berbuat maksiat serupa. Ia juga tidak memberikan motivasi kepada orang lain untuk mengikutinya. Namun karena perbuatannya ini Ia berhasil menginsipirasi orang lain melakukan maksiat serupa.

Itulah mengapa anak Nabi Adam, Qabil, yang menjadi orang pertama yang membunuh manusia harus bertangungjawab atas semua kasus pembunuhan di alam ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.” (HR. Bukhari 3157, Muslim 4473 dan yang lainnya).

Tidak bisa dibayangkan, bagaimana dosa yang akan ditanggung pelopor dan pendesign rok mini, baju you can see, penyebar video porno dan masih banyak tindak maksiat lainnya. Sebagai pelopor dosa mereka akan terus mengalir hingga hari kiamat kelak.

2. Mengajak Orang lain Melakukan Kesesatan dan Maksiat
Berbeda dengan pelopor yang hanya menginspirasi orang lain, orang yang satu ini dengan nyata mengajak orang lain untuk melakukan kesesatan dan tindakan maksiat. Merekalah merupakan juru dakwah kesesatan, atau mereka yang mempropagandakan kemaksiatan.

Dalam Alquran Allah SWT menceritakan bagaimana orang kafir kelak akan menerima dosa dari kekufurannya. Belum lagi dengan dosa-dosa orang-orang yang juga mereka sesatkan.

“Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan).”(QS. an-Nahl: 25)

Ayat ini memiliki makna yang sama dengan  hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya).

Contoh mudah terkait hadist ini adalah orang-orang yang menjadi propaganda kesesatan, mereka menyebarkan pemikiran-pemikiran yang menyimpang, mengajak masyarakat untuk berbuat kesyirikan dan bid’ah.

Merekalah para pemilik dosa jariyah, lantas bagaimana dosa mereka? Selama masih ada manusia yang mengikuti apa yang mereka serukan, maka selama itu pula orang ini turut mendapatkan limpahan dosa, sekalipun dia sudah dikubur tanah.

Termasuk juga mereka yang mengiklankan maksiat, memotivasi orang lain untuk berbuat dosa, sekalipun dia sendiri tidak melakukannya, namun dia tetap mendapatkan dosa dari setiap orang yang mengikutinya.

Semoga kita lebih berhati-hati dalam bertindak, dan lebih banyak melakukan amal shaleh dibanding dosa-dosa maksiat. Karena hidup tidak hanya semata di dunia lalu selesai ketika sudah meninggal. Namun perjalanan masih panjang untuk menuju kehidupan yang kekal.